Kapten Pattimura
Kapitan Pattimura atau Patimura ialah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Haria, Saparua, Maluku. Terlahir pada 8 Juni 1783 di Saparua dengan nama asli Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia. Orangtuanya ialah Frans Matulessia dan Fransina Tilahoi. Dia memiliki seorang adik laki-laki bernama Yohanis. Menurut I.O. Nanulaitta, dikutip dari Historia.id, keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Pada 1810, Kepulauan Maluku diambil alih dari penjajahan Belanda oleh Inggris. Mattulessi menerima pelatihan militer dari tentara mereka dan mencapai pangkat sersan mayor. Setelah penandatanganan Perjanjian Anglo Belanda pada 13 Agustus 1814, pada 1816 kepulauan Maluku dikembalikan kepada Belanda. Pattimura menghadiri upacara tersebut. Setelah itu, dengan melanggar perjanjian, dia dan rekan-rekan prajuritnya dipulangkan ke kampung halaman mereka. Namun, Pattimura menolak untuk menerima pemulihan kekuasaan Belanda. Ia merasa bahwa mereka akan berhenti membayar guru-guru agama Kristen pribumi, seperti yang telah mereka lakukan pada 1810. Ia khawatir bahwa usulan peralihan ke mata uang kertas akan membuat orang Maluku tidak dapat memberi derma karena hanya koin yang dianggap sah. Dengan demikian, gereja tidak dapat membantu orang miskin.
Pattimura wafat pada 16 Desember 1817 di umur 34 tahun karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan.
LATAR BELAKANG TERJADINYA PERANG
Semakin diperketatnya kebijakan monopoli perdagangan, Pelayaran Hongi, dan kerja paksa, yang membuat rakyat Maluku semakin menderita.
Pemerintah kolonial berencana menghapus sekolah-sekolah desa dan memberhentikan guru untuk menghemat anggaran.
Rakyat dipaksa menyediakan garam, ikan asin, dan kopi bagi kapal-kapal perang Belanda yang berlabuh di Ambon.
Menurunkan harga hasil bumi, sementara pembayarannya cenderung ditunda-tunda.
Adanya paksaan bagi para pemuda untuk menjadi serdadu Belanda di luar Maluku.
Adanya permasalahan dalam peredaran uang kertas yang menggantikan uang loga, sehingga semakin mempersulit kehidupan rakyat.
PERJUANGAN KAPTEN PATTIMURA
Pada fase kedua pendudukan Inggris di Maluku, tahun 1810-1817 harus berakhir pada tanggal 25 Maret 1817. Dimana saat itu, Belanda kembali menguasai Maluku. Rakyat Maluku menolak tegas kedatangan Belanda dengan memuat “Proklamasi Haria” dan “Keberatan Hatawano”. Proklamasi Haria disusun Pattimura. Saat, pemerintah Belanda mulai melaksanakan kekuasan melalui Gubernur Van Middelkoop dan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg. Perlawanan bersenjata rakyat Maluku pecah. Lalu, Maluku mengadakan musyawarah dan konsolidasi kekuatan dimana pada forum-forum itu menyetujui Pattimura sebagai kapten yang memimpin perjuangan.
Pada 7 Mei 1817 dalam rapat umum di Baileu, Haria, Thomas Matulessy atau Pattimura dikukuhkan dalam upacara adat sebagai Kapitan Besar. Setelah dilantik, Pattimura memilih pembantunya yang berjiwa ksatria, yaitu Anthoni Rhebok, Philips Latumahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya dan Sarassa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu. Pattimura bersama Philips Latumahina dan Lucas Selano melakuan penyerbuan ke Benteng Duurstede. Berita mengenai jatuhnya Benteng Duurstede dan pemusnahan orang-orang Belanda oleh Pattimura mengoncangkan Pemerintah Belanda di Kota Ambon.
Pada 20 Mei 1817 diadakan rapat raksasa di Haria untuk menyatakan kebulatan tekad melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Peringatan kebulatan tekad tersebut dikenal dengan nama Proklamasi Portho Haria. Proklamasi ini berisi 14 pasal dan ditanda tangani oleh 21 raja patih di Pulau Saparua dan Nusalaut.Proklamasi ini menumbuhkan semangat juang yang mendorong tumbuhnya front-front pertempuran di berbagai tempat sampai Maluku Utara. Belanda tidak tinggal diam.
Pada 11 November 1817 di bawah kepemimpinan Letnan Pietersen di dampingi orang pengkhianat Pattmura berhasil menyergap Pattimura dan Philips Latumahina.Pada saat dibawa ke Ambon, Belanda membujuk Pattimura untuk bekerja sama, namun dirinya menolak. Hal tersebut menimbulkan kemarahan Belanda dan memutuskan untuk menghukum mati Pattimura.Sehari sebelum hukuman mati, Belanda masih terus membujuk Pattimura untuk mau bekerja sama dengan Belanda. Namun, tetap ditolak oleh Pattimura. Akhirnya Pattimura tewas pada 16 Desember 1817 karena hukuman gantung di Benteng Victoria, Ambon. Keberanian dan keteguhan Pattimura membangkitkan semangat dan menjadi teladan generasi penerus. Pattimura rela mengorbankan nyawanya demi bangsa Indonesia
Kerennn yahuyyy
BalasHapuskerenn💟
BalasHapusOkeee
BalasHapussmngtt💟
BalasHapushttp://hapispisang.blogspot.com/2023/02/teks-biografi-jenderal-soedirman.html
BalasHapusBagus, mulai dari bahasa kata"nya mudah di fahami
BalasHapusIyaaa keren bgtygy
BalasHapus👍
BalasHapusSemangatt truss👍
BalasHapusSangat bagus sekali 👍
BalasHapusSangat bagus sekali 👍
BalasHapusKerenn uy
BalasHapussip mantap
BalasHapusmantapp
BalasHapusBagus kak 👍🏻
BalasHapusBagus kak 👍
BalasHapuskeren
BalasHapus